Islami

ini ada sebuah artikel terkait dengan tahap-tahap dakwah, bagi aktifis dakwah kampus  atau siapa saja boleh baca, agar bisa memahami tentang dakwah dalam arti yang luas

MENYONGSONG MIHWAR DAULAH

BAB 1. DAKWAH : SEBUAH KEMESTIAN

Dakwah, Amar makruf dan nahi mungkar adalah ajaran Islam yang memberikan
solusi atas dinamika kehidupan kemanusiaan.
A. KEWAJIBAN DAKWAH, AMAR MAKRUF, DAN NAHI MUNGKAR
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan
bantahlah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih baik
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ( An-Nahl : 125 )
Dalam ayat Makiyah di atas mengandung unsur perintah dari Allah untuk
mengajak manusia ke jalan-Nya. Rasul saw dan seluruh pengikutnya dari kaum
muslimin dan muslimat mukallaf terkena beban kewajiban dakwah.
Allah Ta’ala juga memerintahkan untuk membentuk umat yang senantiasa
melakukan dakwah. Umat yang dikehendaki Allah memiliki karakteristik
senantiasa melakukan dakwah (yad’una ilal khair), amar makruf (ya’muruna bil
makruf) dan nahi mungkar (yanhauma ‘anil mungkar).
a. Dakwah, Wajib Ain atau Kifayah ?
Terdapat empat titik yang mempertemukan dua pandangan kewajiban
dakwah tersebut. Pertama, kedua kelompok ulama telah bersepakat atas
wajibnya dakwah. Kedua, ulama berpendapat dakwah sebagai fardhu ain,
membatasi kewajiban kepada mereka yang memiliki ilmu dan kemampuan.
Ketiga, para ulama yang berpendapat dakwah sebagai fardhu kifayah
memahami bahwa kewajiban itu tertunaikan apabila tersedia jumlah yang
cukup untuk menyelesaikan beban-beban dakwah. Keempat, seandainya pun
tersedia jumlah yang mencukupi untuk menyelesaikan pekerjaan dakwah, nilai
dakwah sebagai sebaik-baiknya perkataan tetap berlaku.
Dengan empat titik temu di atas sesunguhnya, jika pun dipahami
sebagai fardhu ain atau fardhu kifayah, dakwah tetap menghajatkan
keterlibatan seluruh potensi kaum muslimin.
b. Kewajiban Amar dan Nahi
Allah Ta’ala menyebutkan amar makruf dan nahi mungkar sebagai karakter
pokok laki-laki dan perempuan yang beriman:
Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalh
menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
makruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( At–Taubah : 71 )
Allah Ta’ala menyebutkan Rasul dan orang-orang yang mengikutinya
selalu melakukan aktivitas amar makruf dan nahi mungkar. Rasulullah saw.
Memerintahkan kepada setiap orang mukmin laki-laki dan perempuan yang
melihat adanya kemungkinan untuk melakukan upaya mengubah atau
mencegah sesuai kesanggupannya. Diriwayatkan dari abu Hurairah r.a, Nabi
saw. Telah bersabda:
Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan
tangannya, apabila tidak mampu maka hendaklah mengubah dengan lisannya dan
apabila tidak mampu maka hendaklah mengubah dengan hatinya, yang sedemikian
itu selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)
Sebagian kaum muslimin menolak terlibat dalam aktivitas dakwah,
amar makruf dan nahi mungkar dengan alasan dakwah hanyalah kewajiban
para ulama dan mubalig, sedangkan mereka merasa bukan ulama dan bukan
mubalig. Mereka menganggap selama dirinya berada dalam keadaan beriman
dan mendapat petunjuk Allah, tidak perlu lagi melakukan dakwah.
c. Alasan Diwajibkan Dakwah
Dr. Abdul Karim Zaidan dalam dalam kitabnya “Ushulud Dakwah”
menjelaskan tiga alasan wajibnya dakwah. Pertama, karena Allah telah
mengutus Rasul-Nya untuk seluruh umat manusia. Allah Ta’ala berfirman:
Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
semua”. (Al-A’raf : 158)
Yang kedua, tersebarnya kemusrikan dan kekafiran di muka bumi akan
membahayakan kaum Muslimin, baik cepat atau lambat.
Ketiga, berdakwah berarti menghindarkan kaum Muslimin dari kebinasaan dan
azab Allah.
Zinab binti Jasy bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apakah kami akan
binasa juga sedang ada di antara kami prang-orang yang masih melalukan
kebaikan?” Rasulullah saw. Menjawab, “Ya, apabila kejahatan telah merata”. (HR.
Muslim, dikutip oleh Qurthubi dalam tafsirnya)
Musibah bisa diratakan kepada segenap penduduk, yang jahat maupun
yang baik, apabila kemungkaran didiamkan saja. Huru-hara, keguncangan dan
kegemparan bisa mendera bangsa Indonesia tanpa henti apabila mereka
mengembangkan perilaku mungkar. Bahkan kegilaan bisa menjadi penyakit
nasional akibat ditinggalkannya kewajiban nahi mungkar.
d. Dakwah adalah Solusi
Kemungkaran sistemik di bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya
tidak bisa dibiarkan. Sifat asal kemungkaran adalah menghancurkan, oleh
karena itu harus dihentikan. Kemungkinan alternatif bagi bangsa Indonesia
yang menghadapi berbagai bentuk kemungkaran, antara lain;
Pertama, secara sadar berusaha melakukan nahi mungkar dengan mencegah
terjadinya berbagai tindak kemungkaran. Cara ini menyebabkan bangsa dan
Negara akan aman dan bisa melaju lurus ke masa depan yang penuh harapan
akan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.
Kedua, secara sadar membiarkan saja kemungkaran terjadinya dan merajalela
di tengah kehidupan masyarakat, bahkan kalau perluiktu menikmati hasil-hasil
kemungkaran tersebut. Jika ini pilihan yang di ambil, tidak ada kata lain
kecuali kita harus bersiap untuk tenggelam bersama.
Pilihan cerdas yang sesuai akal sehat dan hati nurani yang bersih adalah
menyelamatkan kapal kehidupan bangsa dan Negara Indonesia agar tidak
tenggelam.
B. TUJUAN UTAMA DAKWAH
`Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah saw. Dan para
pengikutnya untuk mengajak manusia menuju Allah semata, bukan kepada yang
lainnya. Inilah pernyataan “ghayah” (tujuan utama) dakwah.
Allah swt berfirman:
… Dan serulah kepada Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang
yang musyrik. ( Al-Qashah : 87 )
Perintah dakwah mengajak manusia “ila rabbika” (kepada Tuhanmu) dikaitkan
langsunga dengan larangan syirik. Hal ini semakin memperjelas rumusan tujuan
utama dalam dakwah, yakni semata-mata mengajak manusia kepada Allah tanpa
mempersekutukan dengan sesuatu apa pun.
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik… . (An-
Nahl : 125)
Menyeru menusia menuju jalan Tuhan, Bukan jalan-jalan yang lain,sebab hanya
jalan Allah yang lurus. Jalan-jalan lain yang terbentang akan menceraiberaikan
dan menyesatkan manusia, sebagaimana firman-Nya:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. ( Al-An’am : 153 )
Jalan-jalan lain tersebut bisa ideologi, isme, keyakinan dan paham hidup atau
millah selain islam. Allah menghendaki umat dibawa menuju jalan yang satu,
yaitu jalan Allah, jalan ketuhanan, yanga akan menyelamatkan manusia. Dakwah
yang dibebankan kepada Rasulullah saw. beserta pengikutnya disebut Allah
sebagai satu-satunya jalan.
Katakanlah, “inilah jalan (agamaku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk
orang-orang musyrik”. (Yusuf : 108)
Tujuan dakwah yang dilakukan oleh setiap rasul Allah dari zaman ke zaman
senantiasa sama, yakni mengajak manusia kepada Allah, tak ada tujuan yang lain.
Mereka mengajak umatnya agar menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi
ilah selain Allah.
Dengan demikian, seluruh aktivis dakwah dari masa ka masa hingga akhir
zaman tiba telah disatukan oleh kesatuan tujuan utama yaitu mengajak manusia
kepada Allah dengan menyembah-nya, tanpa mempersekutukan dengan ilah-ilah
yang lain.
C. MAD’U DALAM DAKWAH
Mad’u adalah objek dan sekaligus subjek dalam dakwah, yaitu seluruh
manusia tanpa terkecuali. Dakwah tidak hanya ditujukan kepada orang Islam,
tetapi orang-orang di luar Islam, baik mereka itu atheis, penganut aliran
kepercayaan, maupun pemeluk agama-agama lain. Semua adalah Mad’u. hal ini
disebabkan karena misi kedatangan Islam adalah sebagai rahmat bagi alam
semesta. Pendek kata, semua manusia, apa pun keyakinan hidupnya, ras, bahasa,
dan bangsanya adalah Mad’u. Bahkan mereka serius dan konsisten memerangi
ajaran tauhid adalah Mad’u dalam dakwah.
Dalam konteks gerakan dakwah Islam, kendatipun seluruh manusia adalah
Mad’u, akan tetapi perlu adanya prioritas dalam penggarapannya. Berbagai
keterbatasan yang dimiliki gerakan dakwah tidak memungkinkan mengambil
seluruh bagian umat untuk dilakukan dakwah kepada mereka sekaligus. Prioritas
adalah kunci untuk bisa melakukan kerja dakwah secara efektif dan menghasilkan
produk yang optimal.
D. METODE DAKWAH
Allah Ta’ala memberikan pedoman metodologis dalam menunaikan dakwah,
yaitu dengan hikmah dan mauizah hasanah, sebagaimana firman-Nya sebagai
berikut:
Seluruh manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran baik, dan bantahlah
mereka dengan cara yang lebih baik. ( An-Nahl : 125 )
Berbagai pengertian secara bahasa maupun pengertian syara’, Dr. Ali Abdul
Halim Mahmud menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hikmah di dalam
dakwah adalah berbuat yang tepat dengan cara yang tepat pada waktu yang tepat.
Aplikasi metode dakwah dengan hikmah sedah dicontohkan oleh Rasulullah
saw sejak beliau berlaku lembut dan santun bahkan terhadap musuh saat awal
periode Mekah, sampai saatnya beliau mengomando para sahabat untuk
mengangkat senjata memerangi musuh. Semua ini adalah aplikasi hikmah. Ada
kalanya menahan diri, tetapi ada pula saat berperang. Ada masanya beliau
berdakwah secara sirriyah (tertutup), tetapi ada pula masanya untuk berdakwah
secara jahriyyah (terbuka).
Tahap-tahap dakwah yang dilalui oleh Nabi saw merupakan contoh dari
hikmah dalam dakwah. Beliau melakukan dakwah dengan tahapan-tahapan yang
jelas sebagaimana penahapan dalam turunnya Al-Quran. Jika tidak bertahap
dalam melakukan dakwah, justru akan memunculkan ketidaksiapan masyarakat
dalam menerima seruan kebenaran.
E. DAKWAH DENGAN TERSTRUKTUR
Hendaknya dakwah dilakukan secara bersama-sama dalam suatu penataan
struktur (tanzhim). Manusia terbatas dengan berbagai kelemahan dan kekurangan.
Akan tetapi, apabila bersatu dalam sebuah penataan maka kekurangan satu dengan
lainnya akan tertutupi dan terlengakapi.
…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebijakan dan takwa, dan
janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…(Al-Ma’idah : 2 )
Strukturisasi gerakan dakwah merupakan sebuah hajat dan kemendesakan,
mengingat banyaknya agenda permasalahan umat yang menuntut penyelesaian
sistemik. Sesungguhnya telah banyak contoh dalam kehidupan keseharian yang
bisa dijadikan rujukan. Shalat berjamaah adalah contoh kongkret tentang
bagaimana seharusnya kegiatan kaum muslimin dikelola. Ada imam yang didengar
dan dipatuhi perintahnya, ada jamaah yang taat, tetapi kritis terhadap sang imam,
sehingga apabila imam melakukan kesalahan, jamaah wajib menegur dan
membenarkan. Demikian juga pembisaaan yang dilakukan oleh Rasul saw agar
kaum Muslimin berada dalam keadaan terpimpin, tidak melangkah sendiri-sendiri.
Untuk mewujudkan kegiatan dakwah yang berstruktur ini, perlu dibentuk
“kepribadian jamaah” pada diri aktivis dakwah. Kepribadian jamaah adalah sebuah
kepribadian yang mampu mencerap dan mengaplikasikan nilai-nilai
keberjamaahan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aktivis dakwah. Kepribadian
jamaah dalam kehidupan para sahabat Rasul yang memiliki komitmen penuh pada
system dan pimpinan. Syiar mereka adalah mendengar dan taat, baik dalam
keadaan ringan maupun berat, sedih maupun senang.
Mobilisasi struktural dalam dakwah baru bisa dilakukan apabila setiap aktivis
dakwah telah menginternalisasikan kepribadian jamaah dalam diri mereka. Kita
lihat, betapa Rasulullah saw dengan gampang melakukan mobilisasi secara
struktural dan sistemik untuk berbagai tugas dakwah. Berbagai maneuver dakwah,
sariyyah maupun ghazwah, cukup menjadi bukti keberhasilan beliau dalam
memobilisir seluruh potensi sahabat.
Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat,
dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. (At-Taubah : 41 )
F. ASPEK-ASPEK PERTUMBUHAN DAKWAH
Dakwah Islam dalam konteks gerakan harus mengalami pertumbuhan secara
simultan meliputi segenap aspeknya. Untuk itu, diperlukan tiga aspek
pertumbuhan dalam gerakan dakwah, agar bisa menunaikan misi besar
kekhalifahan di muka bumi.
a. Pertumbuhan Kuantitas (Numuwwal Kammiyyah)
Pertumbuhan kuantitas ialah bertambahnya jumlah aktivis gerakan
Islam dengan berbagai potensi yang dimiliki. Ada tiga landasan untuk
memahami pentingnya pertumbuhan kuantitas, antara lain:
Pertama, perhatikan Al-Quran mengenai urgensi jumlah kaum Muslimin.
Hai Nabi, Gelorakanlah semangat para muknin untuk berjuang. Jika ada 20 orang
yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 musuh. Dan
jika ada 100 orang (yang sabar) di antaramu, niscaya dapat mengalahkan 1000
orang kafir disebabkan orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan mengetahui bahwa padamu ada
kelemahan. Maka jika ada di antaramu 100 orang yang sabar niscaya mereka dapat
mengalahkan 200 orang; dan jika ada di antaramu 1000 orang (yang sabar) niscaya
mereka dapat mengalahkan 200 dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang
yang sabar. ( Al-Anfal : 65-66 )
Kedua, Nabi membanggakan jumlah umatnya yang banyak, sebagaimana
dalam hadits riwayat Thabrani, wa inni mukatsirun bikum al-umama ayaumal
qiyamah.
Ketiga, sejarah ekspansi dakwah Islam sejak zaman Nabi saw hingga para
khalifah rasyidah, semangat elegan kaum muslimin untuk terus menerus
melakukan dakwah, dan maneuver ke berbagai wilayah hingga akhirnya Islam
dikenal oleh masyarakat dunia hingga saat ini.
Cara yang bisa dilakukan untuk mencapai pertumbuhan kuantitas ini
adalah dengan melakukan dakwah, baik dakwah fardiyyah maupun dakwah
jamahiriyyah. Kedua jenis dakwah ini digunakan sebagai pintu untuk
mengajak mereka menuju proses keberislaman yang baik.
b. Pertumbuhan Kualitas (Numuwwun Nau’iyyah)
Pertumbuhan kualitas adalah pertumbuhan kualitas personal maupun
struktural gerakan dakwah. Dalam skala personal, hendaknya setiap aktivis
gerakan dakwah senantiasa mengupayakan peningkatan berbagai segi kualitas
pribadinya; seperti pertumbuhan kualitas spiritual, kualitas moral, kualitas
intelektual, dan kualitas amal. Skala struktural, diharapkan adanya
peningkatan solidaritas struktur gerakan dan kualitas kinerja organisatoris.
c. Pertumbuhan Kapasitas
Pertumbuhan kapasitas adalah pertumbuhan kemampuan gerakan
dakwah untuk menguasai basis sosial di masyarakat. Basis sosial ini harus
dibentuk dan dikuasai, karena dakwah islam mengemban misi untuk
membahasabumikan Islam. Untuk itu, berbagai potensi masyarakat perlu
mendapatkan sentuhan agar mereka pada akhirnya akan memberikan
dukungan terhadap dakwah Islam. Dengan berbagai sentuhan langsung di
tengah masyarakat itu, diharapkan kapasitas keberagaman mereka akan
semakin meningkat.
BAB 2. MIHWAR DAKWAH : DARI TANZHIMI MENUJU DAULAH
Dakwah adalah proses membahasabumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan
keseharian di segala bidang. Para nabi dan rasul terdahulu telah mengemban amanah
ini, di mana nabi berikutnya meneruskan dan menyempurnakan pekerjaan nabi yang
terdahulu. Hingga akhirnya Nabi akhir zaman, Muhammad saw menunaikan
kesempurnaan bangunan dakwah nabi-nabi sebelumnya.
Sesungguhnya, dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw bersifat totalitas;
mencakup segala sisi kehidupan manusia. Bermula dengan penanaman akidah tauhid
yang bersih dari segala unsur syirik, Rasulullah saw meletakkan nilai-nilai Islam
secara bertahap kepada masysrakat. Sehingga dengan landasan iman itu, dibangunlah
tatanan sosial, tatanan ekonomi, tatanan politit, bahkan sampai ke pembentukan
konstitusi Negara Madinah. Inilah dakwah yang total, sehingga membalikkan pribadi
jahiliyah menjadi pribadi Islam.
Dalam dakwah hasil yang kita inginkan adalah perubahan sistemik pada
seluruh bidangg kehidupan tanpa terkecuali. Untuk mencapai kejayaan masa depan
seperti yang dicita-citakan gerakan Islam, perlu disusun kerangka gerak yang integral,
bertahap dan berkesinambungan. Secara teoritis, kerangka gerak yang dimaksud
meliputi empat lingkar kegiatan atau orbit (mihwar) gerakan. Pertama, adalah orbit
ideologisasi gerakan (mihwar tanzhimi), kedua adalah orbit sosialisasi gerakan
(mihwar sya’bi), ketiga adalah orbit kelembagaan polotik (mihwar mu’assasi), dan
keempat adalah orbit kelembagaan Negara (mihwar daulah).
Masing-masing orbit saling berhubungan dengan yang lain secara sinergis, artinya
setiap orbit terus berjalan tanpa henti, dan ketika sudah mencapai batas kesiapan
optimum akan menambah orbit berikutnya. Dengan demikian, sebuah gerakan dakwah
yang telah mencapai fase orbit kenegaraan, berarti pada saat yang bersamaan mereka
tengah melakukan keempat orbit secara bersamaan dan sinergis satu dengan yang
lainnya.
Kesuksesan melalui sebuah orbit ditentukan oleh sejauh mana keberhasilan dari
orbit sebelumnya. Dengan kata lain, keseluruhan orbit tersebut saling berkorelasi
secara positif terhadap yang lain, karena orbit sebelumnya menjadi dasar berpijak bagi
orbit setelahnya.
A. ORBIT PERTAMA, MIHWAR TANZHIMI
Karakter utama dari mihwar ini adalah melakukan rekrutmen kader inti
(an-nuwatu ash-shulbah) untuk kemudian menindaklanjuti dengan segala usaha
membina dan memperbaiki kualitas setiap aktivis, sehingga mereka memiliki
kepribadian Islam. (asy- syakhshiyyah al-Islamiyyah) dan kepribadian jamaah
(asy- syakhshiyyah al-jama’iyyah), sebagai sarana utama untuk berhubungan
dengan penataan internal gerakan.
a. Sifat Ketertutupan pada Kegiatan Ideologisasi
Secara umum, kegiatan yang dilaksanakan lebih banyak urusan
internal, dan menghajatkan kondisi ketertutupan (sirriyyah) untuk
menghindarkan diri dari benturan atau masuknya anasir perusak dari luar.
b. Bentuk Aktivitas Ideologisasi Gerakan
Bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan oleh gerakan dakwah pada orbit
ideologisasi yang lebih banyak bersifat tertutup tersebut di antaranya:
1. Membentuk Kepribadian Islami
Kepribadian Islami adalah sebuah kondisi pribadi yang terwarnai dan
tercelup dalam nilai-nilai Islam.
2. Membentuk Kepribadian Jamaah
Kepribadian jamaah adalah sebuah kepribadian yang mampu mencerap dan
mengaplikasikan nilai-nilai keberjamaahan dalam kehidupan sehariharinya
sebagai aktivis dakwah.
3. Merekrut Kader Secara Selektif
Rekrutmen personal pada orbit ideologisasi gerakan ini bersifat amal
selektif, karena berorientasi kepada terbentuknya kader inti.
c. Konsolidasi Internal
Orbit ideologisasi gerakan menghajatkan sebuah konsolidasi internal
yang kokoh, meliputi konsolidasi personal dan konsolidasi struktural.
Konsolidasi ini dilaksanakan guna menjamin soliditas personal dan struktural
gerakan dakwah, ketika mereka akan menampaki mihwar-mihwar berikutnya
dalam perjalanan dakwah.
B. ORBIT KEDUA, MIHWAR SYA’BI
Setelah melampaui orbit ideologisasi maka gerakan berikutnya, yaitu
sosialisasi gerakan. Pada orbit sosialisasi, sifat gerakan mulai terbuka, dengan
melakukan kegiatan formal dan melakukan kegiatan formal dan melakukan
rekrutmen publikdi tengah masyarakat luas.
a. Argumen Urgensi Sosialisasi Gerakan
Sosialisasi harus dilakukan gerakan dakwah, mengingat islam adalah
rahmat bagi semesta alam yang harus disampaikan kepada semua bagian di
alam semesta ini.
Tiga alasan berikut memperkuat keharusan melakukan sosialisasi
gerakan dakwah. Pertama, adanya contoh kegiatan sosialisasi gerakan dakwah
di zaman kenabian. Kedua, sifat asal ajaran Islam yang menampik perilaku
antisosial. Ketiga, manusia memiliki kebutuhan sosial.
b. Sasaran Sosialisasi Gerakan Dakwah
Orbit sosialisasi gerakan dakwah berorientasi pada beberapa sasaran berikut:
1. Meningakatkan Kapasitas Keberagaman Masyarakat
Tatkala gerakan dakwah hendak mewujudkan peradaban baru yang
sesuai dengan tata nilai Islam, tidak mungkin akan bisa meninggalkan
masyarakat.
Oleh karena itu, masyarakat harus dibimbing, diarahkan, dan dibina
agar selalu memiliki peningkatan kapasitas keberagamaan mereka,
sehingga terbentuk masyarakat religius yang melaksanakan kewajiban
beragama. Di zaman keemasan Islam, kita menyaksikan tipologi
masyarakat yang Islami. Mereka adalah masyarakat yang memiliki
kapasitas keberagamaan yang sangat tinggi.
2. Muncul dan Menguatkan Opini-Opini Positif tentang Islam dan Opini-
Opini Islami dalam Berbagai Bidang Kehidupan, Baik Sosial, Ekonomi,
Polotik, Hukum, Hankam, maupun HAM.
Tatkala mengupas persoalan sosial, diharapkan masyarakat bisa
menggunakan cara pandang Islami untuk memahami dan mencari solusi.
3. Muncul dan Menguatnya Penampilan Islam (al-mazhar al-islami) di tengah
Masyarakat
Orbit Sya’bi di antaranya memiliki sasaran agar penampilan Islami
semakin menguat di tengah kehidupan masyarakat.
4. Muncul dan Menguatnya Dukungan Publik terhadap Dakwah dan Gerakan
Dakwah.
Diharapkan masyarakat semakin simpati dan memberi konstribusi
terhadap upaya dakwah, sekaligus bersimpati terhadap pergerakan dakwah.
c. Langkah Sosialisasi Gerakan
1. Menguatkan Peran Publik para Aktivis Dakwah di Tengah Masyarakat.
2. Mengintensifkan Kegiatan Dakwah Ammah (Umum) di tengah
Masyarakat.
3. Membuat wajihah atau wadah kegiatan yang legal dan formal.
4. Membuat wadah–wadah atau lembaga yang menghimpun potensi
masyarakat.
5. Mengoptimalkan peran media masa, baik cetak maupun elektronik.
6. Melakukan komunikasi dan silahturohmi dengan tokoh –tokoh masyarakat
dan organisasi sosial politik.
7. Melakukan komunikasi dan silahturohmi dengan tokoh –tokoh gerakan
dakwah dan lembaga – lembaga dakwah islam.
d. Rekrutmen pada orbit sosialisai
1. Rekrutmen (tajnid) pada orbit sosialisasi.
2. Berorientasi mendekatkan masyarakat pada kultur keislaman, dengan
harapan mereka bisa memberikan kontribusi optimal sesuai potensi mereka
masing – masing.
e. Langkah – kangkah rekrutmen publik
1. Pemetaan sosial.
2. Menentukan prioritas sasaran.
3. Penetuan strategi dasar (grand strategy).
4. Penentuan metodologi rekrutmen terhadap sasaran.
5. Menentukan sarana dan prasarana rekrutmen.
6. Evaluasi dan penanganan hasil rekrutmen.
C. ORBIT KETIGA, MIHWAR MU’ASSASI
Setelah melakukan persiapan di mihwar tanzhimi, lalu melalui keterbukaan dan
langkah rekrutmen publik di mihwar sya’bi, tiba saatnya bagi gerakan dakwah
untuk segera memasuki orbit kelembagaan politik (mihwar mu’assasi).
a. Politik dalam Islam
Politik merupakan salah satu bagian utuh dari perhatian islam, agar manusia
bisa melaksanakan fungsi kekhalifahan di muka bumi dengan baik,
memakmurkan alam semesta dan memimpin umat manusia menuju kebaikan
hidup di dunia maupun akhirat.
b. Makna Siyasah
Secara sederhana, kata siyasah dimaknai sebagai politik. Di antara makna
siyasah yang penting adalah:
1. Seni Mengatur Pemerintahan
2. Seni Mengelola Perubahan
3. Upaya Merealisasikan Kebaikan
4. Kepedulian terhadap Urusan Umat
c. Makna Musyawarakah Siyasiyah
Tentang partisipasi politik ini, menurut Miriam Budihardjo dalam bukunya
“Partisispasi Politik” ada tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
1. Mendengarkan berika peristiwa polotik
2. Membaca Berita Politik
3. Mendiskusikan Masalah Politik
4. Melihat Kampanye Partai Politik
5. Ikut Berkampanye untuk Partai Politik Tertentu
6. Memilih dalam Pemilu
7. Menjadi Anggota Partai Politik
8. Menjadi pimpinan suatu partai politik
d. Penetrasi Kelembagaan Politik
Politik, sebagaimana posisi bidang garap lainnya, hanyalah merupakan
salah satu dari sekian banyak bidang sector publik, seperti ekonomi, sosial, dan
budaya. Artinya, aktivitas polotik itu tidak dengan sendirinya memiliki makna
bertentangan dengan islam.
Oleh karena politik merupakan salah satu bagian dari integrelitas ajaran
Islam maka mengurus politik dan kelembagaan politik merupakan salah satu
bagian utuh dari pengelola dakwah Islam.
e. Berbagai Kegiatan Mihwar Mu’assasi
1. Mempersiapkan Pelaku Kegiatan Politik
2. Melakukan Pendidikan Politik Kepada Masyarakat
3. Membentuk Partai Politik
4. Mengikuti Pemilihan Umum, Pemilihan Presiden, dan Pemilihan Kepala
Daerah
5. Memasukkan Aktivitas Dakwah dalam Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan
Yudikatif
6. Membangun Komunikasi Politik
D. ORBIT KEEMPAT, MIHWAR DAULAH
Setelah berhasil menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar pada tiga mihwar
sebelumnya, gerakan dakwah bisa nemambah volume gerakan dengan memasuki
orbit kelembagaan Negara (mihwar daulah). Gerakan dakwah harus memikirkan
bagaimana bisa menciptakan sebuah pemerintahan yang berdaulat dan terbebas
dari pengaruh-pengaruh asing, baik dari segi ideologi, politik, hukum, ekonomi,
sosial maupun budaya.
Sebuah pemerintahan yang akan melindungi masyarakat dari degradasi akidah
dan akhlak, menunaikan hak-hak rakyat, menegakkan keadilan dan kemakmuran
bagi segenap warga, mengolah sumber daya alam dengan penuh amanah. Hal itu
menghajatkan keterlibatan para aktivis dakwah, sehingga harus aplikasikan dalam
orbit penetrasi kelembagaan kenegaraan.
a. Islam, Negara, dan Pemerintahan
Pemerintah dalam sebuah Negara yang dikehendaki dalam Al-Quran
adalah sebuah alat kekuasaan untuk merealisasikan kebijakan universal di alam
semesta. Hal ini mengandung dua pengertian, Pertama, pemerintah yang
tengah berkuasa di suatu Negara pada hakikatnya hanyalah pelaksana dari
ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah sebagai pemegang
otoritas mutlak di alam semesta. Kedua, bahwa fungsi pemerintahan harus
memiliki orientasi kemaslahatan bagi umat secara umum.
b. Aplikasi Prinsip Kedaulatan Allah di Alam Semesta
Islam telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi segala system
kehidupan. Dalam wacana politik, keimanan kepada Allah Ta’ala menjadi
landasan bagi konsep maupun aplikasi praktisnya.
c. Kegiatan Mihwar Daulah
Di antara bentuk kegiatan penetrasi lembaga kenegaraan yang bisa dilakukan
oleh gerakan dakwah adalah:
1. Mempersiapkan Pelaku Mihwar Daulah
2. Menyiapkan Cetak Biru Sistem Pemerintahan
3. Memasukkan Aktivis Dakwah dalam Berbagai Lembaga Pengambilan
Kebijakan Negara
4. Menyusun Pemerintahan Baru
5. Menetapkan Undang-Undang atau Peraturan
E. SENI MENGELOLA PERKEMBANGAN MIHWAR
Secara internal, gerakan dakwah mengalami perubahan yang amat signifikan
setiap kali melakukan pengambangan mihwar. Pada saat menapaki orbit
ideologisasi (mihwar tanzhimi), ketertutupan merupakan karakterdasar yang
membentuk perilaku dan mentalitas para aktivis dakwah. Tatkala langkah
sosialisasi gerakan dimulai, secara perlahan sifat ketertutupan itu harus
ditinggalkan. Tentu saja tidak mudah untuk memulai sebuah kultur baru dalam
pergerakan. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran secara kolektif dan
pembisaaan secara wajar dan cerdas untuk memahami suasana-suasana dan
tuntutan baru dalam pergerakan.
Perubahan-perubahan sifat, suasana, tuntutan, dan juga peluang serta tantangan
yang ada dalam dua mihwar tersebut harus diantisipasi secara cepat oleh para
aktivis dakwah, agar segera menyesuaikan diri dengan lingkar kerja yang baru.
F. TOLOK UKUR PERUBAHAN
Tiga tolok ukur berikut dapat digunakan sebagai patokan untuk menilai kebutuhan
perubahan:
a. Kaidah-Kaidah Syariat
Dr. Yusuf Qardhawi membrikan beberapa kaidah untuk menghadapi pilihanpilihan
tersebut dalam konteks Fikih Muwazanat, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Kaidah-Kaidah yang bisa digunakan untuk memilih antara berbagai
kemaslahatan:
 Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang
baru diduga adanya, atau diragukan
 Mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil
 Mendahulukan kepentingan jamaah atas kepentingan pribadi
 Mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit
 Mendahulukan Kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan
yang sementara dan incidental
 Mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepentingan
yang bersifat formalitas dan tidak penting
 Mendahulukan kepentingan masa depan yang kuat atas kepentingan
kekinian yanga lemah
2. Kaidah yang digunakan untuk menentukan pilihan antara berbagai
kemudharatan:
 Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan
 Suatu bahaya sedapat mungkin harus disingkirkan
 Suatu bahaya tidak boleh disingkirkan dengan bahaya yang sepadan
atau lebih besar
 Memilih bahaya atau keburukan yang lebih ringan dibandingakan
bahaya atau keburukan lainnya
 Memilih menanggung bahaya yang lebih rendah untuk menolak
bahaya yang lebih tinggi
 Memilih menanggung bahaya yang khusus untuk menolak bahaya
yang lebih luas dan umum.
3. Kaidah-Kaidah Penting untuk memilih antara kebaikan dan keburukan
apabila keduanya bertemu;
 Menolak kerusakan didahului atas mengambil kemanfaatan
 Kerusakan kecil ditolerir untuk memperoleh untuk kemaslahatan yang
lebih besar
 Kerusakan yang bersifat sementara ditolerir untuk kemaslahatan yang
berkesinambungan
 Kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan karena adanya
kerusakan yang baru diduga adanya.
b. Konstitusi Organisasi
Gerakan dakwah tentu saja memiliki seperangkat konstitusi (qanun
asasi), seperti Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan,
Pedoman, Panduan, Kebijakan, Fatwa dan mekanisme lainnya yang bersifat
mengikat kepada setiap langkah gerak dan pelaku pergerakan. Dan setiap
aktivis dakwah harus dibiasakan memiliki ketaatan terhadap konstitusi
organisasi, sehingga aspek-aspek yang mengalami perubahan karena adanya
perubahan mihwar itu pun tetap dalam koridor konstitusi.
c. Pertimbangan Da’wiyah
Bisa jadi, sebuah pilihan kegiatan dapat dibenarkan oleh syariat setelah
dilakukan pertimbangan menggunakan berbagai kaidah, demikian pula dalam
konstitusi organisasi tidak melarang adanya kegiatan tersebut, namun masih
ada pertimbangan berikutnya dalam konteks dakwah. Pertanyaan yang
dimunculkan adalah, apakah kegiatan tersebut positif dalam konteks dakwah
atau justru kontra produksi, atau tepat atau tidak tepatkah dilaksanakan
sekarang?
G. PERSIAPAN UNTUK MEMASUKI PERUBAHAN
Para pelaku dakwah memerlukan pula sejumlah persiapan untuk bisa
mengemban tugas pada setiap perkembangan mihwar dengan sukses, antara lain:
Pertama, kesiapan diri dan kelapangan jiwa untuk berinteraksi dengan berbagai
realitas sosial masyarakat.
Kedua, peningkatan pemahaman keislaman kejamaahan, dan kenian.
Ketiga, kemampuan berkomunikasi efektif. Menghadapi keragaman masyarakat
menghajatkan kemampuan komunikasi efektif.
BAB 3. PERSIAPAN-PERSIAPAN AKTIVITAS DAKWAH
Tak bisa dipungkiri, persiapan-persiapan yang diperlukan seorang aktivis
dakwah bersifat madal hayah (sepanjang hidup) sebab kewajiban dakwah berlaku
selama itu pula.
A. PERSIAPAN RUHANIYAH
Ini merupakan rahasia kekuatan Islam, pada saat imam mulai tumbuh dan
berkembang dalam pribadi mukmin, detik itu pula muncul sosok jiwa yang siap
mati di jalan Allah swt. Sejarah telah membuktikan hal itu. Ketika Bilal bin Rabah
r.a menyatakan diri masuk Islam maka siksaan yang dilakukan Umayyah bin
Khalaf kepadanya tak berpengaruh, selain menambah keteguhan iman belaka.
Keyakinan yang kokoh akan kebenaran jalan yang telah ditempuh
membuatnya rela mempertaruhkan nyawa. Rasulullah saw menyiapkan generasi
awal Islam lewat tarbiyyah ruhaniyyah yang mantap. Turunnya surat Al-
Muzzammil pada awal periode Mekah menginsyaratkan betapa kuatnya persiapan
tarbiyyah ruhaniyyah saat itu.
Gejala Kekeringan Ruhaniyah
a. Mudah Dilanda Kejenuhan dan Kemalasan
b. Mudah Emosi dan Tersinggung
c. Mudah Kecawa dan Putus Asa
d. Mudah Mengeluh dan Meratapi Kondisi
B. PERSIAPAN KARAKTER (MUWASHAFAT)
AKTIVIS DAKWAH HARUS MEMILIKI muwashafat (karakter) yang kuat dan
jelas. Karakter yang sangat kuat melekat pada generasi sahabat tidaklah muncul
dengan tiba-tiba dan seketika, tetapi hasil dari proses pembinaan yang panjang dan
berkesinambungan.
a. Nabi Membentuk Karakter Sahabat
Karakter yang hendak dibangun Nabi saw lewat proses tarbiya, antara lain:
1. Membentuk Tashawwur Islami
2. Membentuk Sistem AMAL Jama’i
3. Membentuk Karakter Kepribadian
b. Landasan Karakter Para Aktivis Dakwah
Islam sebagai din yang syamil memiliki patokan karakter kepribadian
penganutnya yang tercermin dalam doktrin akidah, syariah maupun akhlak.
Akidah sebagai fondasi keyakinan telah tertancap sejak awal zaman kenabian
ke dada para sahabat. Inilah patokan karakter yang amat fundamental dalam
kehidupan muslim, yang menyebabkan seorang muslim berkepribadian
tamayyuz (spesifik), berbeda dari yang lainnya.
Ada beberapa karakter yang selayaknya dimiliki para aktivis dakwah
Islam, yakni:
1. Kejelasan Wala’ (Loyalitas)
2. Menetapi Akhlak Kenabian
c. Muwashafat Para Aktivis Dakwah
Muwashafat bagi para aktivis dakwah mencakup sepuluh poin kepribadian
islami berikut:
1. Salimul ‘Aqidah
2. Shahihul ‘Ibadah
3. Matinul Khuluq
4. Qadirun ‘ala Kasbi
5. Mutsaqqaful Fikri
6. Qawiyyul Jismi
7. Mujahidun linafsihi
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi
9. Harishun ‘ala Waqtihi
10. Nafi’un li Ghairihi
C. PERSIAPAN FIKRIYAH (INTELEKTUAL)
Persiapan intelektual bermaksud untuk memperkuat keterikatan dan
penguasaan konsepsional setiap personal bagi keperluan dakwah.
a. Pengetahuan Islam secara Lengkap
1. Ilmu Ushul Ats-Tsalatsah (tiga landasan pokok) yang meliputi pengetahuan
(ma’rifah) tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ar-Rasul dan Al-Islam itu
sendiri.
2. Al-Quran, baik kandungan maupun ilmu-ilmu yang berhubungan
dengannya.
3. As-Sunnah, baik kandungan maupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
4. Ilmu Al-Aqa’id (akidah), akhlak dan fiqh
5. Sirah Nabawiyah dan tarikh umat Islam
6. Ilmu Bahasa Arab
7. Sistem musuh dalam menghancurkan Islam (deislamisasi)
8. Studi Islam modern
9. Fiqh Ad-Dakwah
b. Pengetahuan Modern
Seorang aktivis dakwah juaga perlu mengerti ilmu pengetahuan modern
yang sekarang banyak berkembang. Pengetahuan ini sering pula disebut
dengan ilmu kauni. Aktivis dakwah islam perlu juga mengetahui secara global
maupun khusus keseluruhan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dalam gerak
dakwah Islam. Pendek kata, keseluruhan ilmu yang bermanfaat bagi dakwah
harus dikuasai muslimin, termasuk berbagai sisi keahlian praktis.
D. PERSIAPAN JASADIYAH
Persiapan jasadiyah atau fisik merupakan bagian integral dari keseluruhan
persiapan yang mesti dilakukan oleh para akativis dakwah. Kesehatan fisik
merupakan salah satu syarat kesuksesan dakwah. Hendaklah para aktivis
senantiasa menjaga kesehatan dan kekuatan tubuhnya.
a. Kebisaaan Hidup Sehat
Kebisaaan hidup sehat seperti fondasi yang sangat penting untuk mendapatkan
kesehatan dan kekuatan fisik. Makanan yang seimbang dari segi kandungan
karbohidrat, protein, lemak juga vitamin dan mineral. Sayur-sayuran hijau,ikan
laut maupun darat, buah-buahan merupakan contoh makanan yang menyehatkan,
ditambah makanan pokok yang telah bisa dikonsumsi.
b. Olahraga Teratur
hendaklah para aktivis memiliki kegiatan olahraga (riyadhah) yang teratur.
Dengan olahraga, badan bukan hanya akan sehat, namun juga segar dan bugar.
E. PERSIAPAN KOMPETENSI
Salah satu persiapan untuk menyongsong masa depan dakwah adalah persiapan
kompetensi. Ada beberapa langkah penting dalam upaya penyiapan kompetensi
ini:
a. Pemetaan Posisi
b. Perencanaan Kebutuhan
c. Penyiapan Kompetensi SDM
F. PERSIAPAN MALIYAH (MATERI)
Materi bukanlah segalanya, akan tetapi ia merupakan hal yang diperlukan bagi
kelangsungan dakwah, baik dalam skala individual maupun kolektif. Setiap
langkah dakwah pasti membutuhkan materi, baik berupa uang yang langsung
terlihat, ataupun berbentuk perbekalan yang tidak kelihatan secara langsung.
BAB 3. PERAN AKHWAT MUSLIMAH DALAM DAKWAH
Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf dan
mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (At-Taubah : 71)
Ayat di atas dengan jelas menggambarkan peran yang seimbang antara lelaki dan
perempuan dalam penunaian dakwah, amar makruf dan nahi mungkar. Lelaki dan
perempuan beriman terlibat dalam suatu system amal jamai, saling menguatkan di
antara mereka dalam kebaikan, “sebagian mereka adalah menjadi penolong sebagian
yang lain”.
A. PENGHARGAAN ISLAM KAPADA PEREMPUAN
Islam telah memberikan hak sosial, politik, dan ekonomi kepada perempuan
sebagaimana kepada kaum lelaki. Islam selalu menjaga kehormatan dan
memperlakukan perempuan dengan penuh penghargaan dan keagungan. Sungguh
suatu hak dan penghormatan yang belum pernah diberikan kepada permpuan oleh
ideologi manapun didunia ini, salain islam.
B. KESEIMBANGAN PERAN
Tanggung jawab kemanusiaan di hadapan Alllah, tak ada pembedaan lantaran
potensi keperempuanan atau kelelakian.
Adapun orang-orang yang beriman laki-laki dan perempan, sebagian mereka (adalah)
menjadi penolong sebagian yang lain. (At-Taubah : 72)
Mereka saling tolong-menolong, saling melengkapi, sehingga terjaga
keseimbangan peran di muka bumi.
C. PERAN AKHWAT MUSLIMAH DI ZAMAN KEEMASAN ISLAM
Para akhwat sahabiyah Nabi saw memiliki peran yang sangat besar dalam
berbagai aktivitas publik, termasuk dinamika dakwah dan jihad. Mereka tidak
hanya berada di dalam rumah malakukan aktivitas domestik, namun terlibat pula
dalam ranah publik.
Cobalah kita perhatikan, apa saja yang telah mereka lakukan di zaman keemasan
islam.
a. Mengadu kepada Nabi saw
Sungguh, kita amata berterima kasih kepada Habibah binti Sahl, istri
Tsabit bin Qais. Dari beliau r.a kita menjadi tahu seberapa jauh keterlibatan
dan hak-hak sosial perempuan. Kita bahkan labih yakin tentang nilai
kemanusiaan yang di emban islam.
Kisah yang bermula dari proses pernikahan Habibah. Seandainya ia tidak
mengadukan masalah ini, tak akan kita mendapatkan hikmah yang besar
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas telah
datang kepada Rasulullah saw kemudian berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak
mencela akhlak maupun agama suamiku. Tetapi, aku tidak menyukai
kekufuran dalam islam.” Rasulullah saw bertanya, “maukah engkau serahkan
kembali kebun pemberian suamimu?” Ia menjawab, “Ya” maka Rasulullah
bersabda, “Terimalah kebun itu (hai Tsabit) dan jatuhkanlah talak satu
kepadanya.” (HR. Bukhari dan Nasa’i). ini adalah kisah kejadian khuluj
pertama kali dalam sepanjang sejarah hukum islam.
b. Menimba Ilmu dari Nabi SAW
Para akhwat sahabiyah Nabi saw terbiasa menghadiri majelis ilmu Nabi
saw bersama kaum laki-laki. Mereka juga terbiasa bertanya tentang berbagai
urusan. Bahkan para akhwat sahabiyah meminta diprioritaskan oleh Nabi saw
atas kaum laki-laki. Mereka minta agar Nabi saw menyediakan hari khusus
untuk para akhwat sahabiyah.
c. Berbaiat Kepada Nabi
Kita menyaksikan sejarah keterlibatan Ummu Imarah binti Ka’ab seorang
perempuan bani Mazin, dan Asma’ binti Amr bin Adi, perempuan dari bani
Slamah, dalam baiat Aqabah II bersama 73 kaum laki-laki. Baiat Aqabah II
terjadi pada malam hari di Lembah Aqabah, berisi janji setia 75 sahabat
Yatsrib kepada Rasulullah saw.
Baiat adalah manifesto kesetiaan kepada kepala Negara, dengan demikian
dianggap sebagai perwujudan pertisipasi polotik mauslimah dalam urusan
kenegaraan.
d. Peran di Medan Perang
Sebagaimana Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz pernah menuturkan, “Kami
pernah bersama Nabi saw dalam peperangan. Kami bertugas member minum
prajurit, melayani mereka, mengobati oang terluka, serta mengantarkan orangorang
yang terluka dan terbunuh ke madinah.” (HR. Bukhari)
e. Menentang Pengauasa Zalim
Pada sisi lain, banyak kita dapatkan kisah kaum perempuan terlibat dalam
penentangan penguasa, karena sikap kezaliman para penguasa atau karena
adanya perbedaan pendapat di antara mereka. Kisah As,a’ binti Abu Bakar
yang menentang Al-Hajjaj menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, serta
keterlibatan mereka dalam urusan kebaikan Negara.
f. Meluruskan Kesalahan Pemimpin
Bantahan salah seorang perempuan shabiyah kepada Khalifah Umar di
Masjid, tatkala Umar memberikan pembatasan mahar terhadap kaum
perempuan juga menjadi contoh menarik bagaimana peran mengkritisa
kebijakan penguasa telah dilakukan secara langsung di zaman keemasan Islam.
g. Peran Kepemimpinan
Realitas keseharian kita mengenai adanya perempuan yang mampu
memerankan fungsi kepemimpinan dalam berbagai sector kehidupan
menandakan adanya potensi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Prinsip
keadilan oleh Allah Ta’ala bahwa antara laki-laki dan perempuan perlu ada
penataan posisi. Setiap peran tidaklah lebih rendah dibandingakan dengan yang
lainnya.
D. PERAN AKHWAT DALAM GERAKAN DAKWAH MODERN
Setelah mempelajari keterlibatan akhwat sahabiyah Nabi saw dalam dakwah,
kini kita belajar dari salah satu gerakan di zaman modern, yakni gerakan Al-
Ikhwan di mesir.
Jamaah Al-Ikhwan dalam struktur organisasi gerakannya memiliki Divisi
Akhwat Muslimah untuk menampung dan mewadahi kreativitas mereka. Divisi
Akhwat Muslimah dibentuk tahun 1932 di masa Mursyid Pertama, meruoakan
cikal bakal keterlibatan para akhwat muslimah dalam perjuangan Ikhwan. Mereka
mengadakan kegiatan pembinaan, kajian dakwah dan serangkaian aksi sosial di
tengah masyarakat. Keberadaan mereka tak bisa diabaikan mengingat berbagai
peran signifikan yang mereka tampakkan dalam perjuangan dakwah Al-Ikhwan.
E. PEDOMAN UMUM KETERLIBATAN AKHWAT
Beberapa rambu berikut hendaknya menjadi perhatian bagi kaum muslimin
maupun muslimat.
a. Kesadaran dan PartisipasiSosial Politik
Perempuan muslimah seperti halnya kaum laki-laki, dituntut untuk peduli
terhadap masalah-masalah sosial polotik yang berkembang dalam masyarakat.
Kaum muslimah dituntut untuk ambil bagian sesuai dengan batas-batas
kemampuan dan kondisinya dalam membangun masyarakat melalui kegiatan
amar makruf nahi mungkar serta memberikan nasihat, atau dengan mendukung
usaha-usaha yang positif dan menentang hal-hal yang negatif.
b. Fardu Kifayah Bidang Sosial Politik
Kadang-kadang, hukum kegiatan sosial maupun politik adalah fardu dan
perempuan harus melaksanakan apa-apa yang dianggapnya fardhu kifayah
atasnya dalam bidang ini.
1. Setiap tugas yang wajib dilaksanakan guna menjamin penguasa berbuat
benar dan adil. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara lai-laki dan
perempuan agar sasaran ini bisa terwujud.
2. Bergabung dalam partai atau orsospol yang bersih dan menginginkan
kesejahteraan umat, membantu pihak penguasa malakukan perbaikan yang
bersifat menyeluruh berdasarkan pada prinsip Islam di satu sisi, dan
menguasai berbagai eksperimen dan ilmu-ilmu modern pada sisi yang lain.
3. Membudayakan kesadaran berpolitik di kalangan kaum perempuan,
khususnya pada masa-masa tertentu, seperti pemilu.
4. Bertugas mengatur dan melaksanakan kegiatan pemilu untuk menunjukkan
kejujuran dan kebersihan, terutama di tempat-tempat yang dikhususkan
untuk kaum perempuan guna menghindari terjadinya keadaan yang
berdesak-desakan dengan kaum laki-laki.
c. Pendidikan Sosial dan Politik
Perempuan memiliki peran signifikan tatkala menjadi ibu, untuk memerankan
fungsi pendidikan sosial dan politik dalam rumah tangga. Pendidikan politik
dapat dilakukan melalui berbagai macam media, seperti keluarga, sekolah,
kelompok, dan sarana informasi. Institusi sosial khusunya keluarga, lebih
efektif dibandingakan dengan institusi-institusi politik umumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: